Penyebab Stress … (3)

Posted in Kebaikan, Nasehat, Sesi, Terapi dengan kaitan (tags) , , , on 19 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Salah satu yang menyebabkan kita stress adalah kita terlalu banyak berharap, entah itu berharap sesuatu atau berharap kepada orang lain.

Saat kita mengharap sesuatu terjadi dan kita mencurahkan segenap harapan kita, maka segenap energi kita tersita habis untuk hal tersebut. Saat akhirnya harapan itu tidak menjadi kenyataan, maka yang ada adalah perasaan kesal, menyesal, berandai-andai, dll.

Saat kita mengharap orang lain melakukan sesuatu padahal kita tahu bahwa orang lain adalah di luar kemampuan kendali kita, maka ketika harapan kita tidak menjadi kenyataan yang muncul adalah rasa kesal, kecewa, jengkel, dll.

Mari kita simak QS 25:20 yang menyatakan : ” … Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? …

Oleh karenanya, saat kita berharap sesuatu, maka segala ikhtiar yang akan kita lakukan harus kita pasrahkan kepada Allah. Dan saat berharap tentang orang lain, maka mari kita tanya kepada diri kita sendiri, sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang lain itu.

Apapun yang kita harapkan semakin bermakna kala kita lillahi ta’ala.

Khutbah Jum’at : Hikmah Puasa

Posted in Unduh dengan kaitan (tags) , , on 16 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Beberapa Catatan Khutbah Jum’at, 16 Oktober 2009

HR (Mutafaq Alaih) : 7 kelompok manusia yang diberikan naungan Allah di padang mahsyar :

  • Pemimpin yang adil
  • Pemuda yang sejak kecil selalu beribadah
  • Orang yang hatinya selalu terkait masjid
  • Dua orang laki-laki yang bertemu & berpisah hanya karena Allah untuk beribadah
  • Laki-laki yang menolak diajak maksiat oleh wanita meskipun cantik, kaya dan kuasa
  • Laki-laki/orang yang shodaqoh secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinyapun tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan
  • Laki-laki/orang yang dzikir sambil bersembunyi & ber-khalwat kepada Allah SWT (meneteskan air mata)

HR : Ketaqwaan itu disini (di dalam hati)

Ciri Puasa diterima :

  1. Semakin bertaqwa
  2. Setiap bertemu orang lain berperangai yang sejuk dan menyenangkan
  3. Semakin dermawan
  4. Tidak gampang marah / emosi
  5. Selalu memaafkan orang lain

Penyebab Stress … (2)

Posted in Kehidupan, Nasehat, Sesi, Terapi dengan kaitan (tags) , , , on 11 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Coba bayangkan apa yang kita rasakan saat kita sedang menikmati acara televisi yang menurut kita penting tiba-tiba ada tamu yang datang ke rumah kita sementara waktu itu sepertinya bukan saat yang tepat untuk bertamu. Tentu beragam perasaan muncuk khan, diantaranya : kecewa karena kehilangan acara televisi, kecewa terhadap sikap tamu yang kurang memahami waktu, setengah hati melayani tamu, berharap tamu segera pulang.

Dari hal tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa salah satu penyebab stress adalah raga dan jiwa kita tidak berada pada tempat / momen yang sama.

Lalu bagaimana? Tentu kita tidak bisa mengendalikan orang lain terlebih dalam tatanan sosial bermasyarakat. Yang bisa kita lakukan adalah mengeset hati dan pikiran kita sendiri. Di balik peristiwa apapun harus kita yakini bahwa segala sesuatu sudah ada yang mengatur. Maka kita hanya perlu menjalaninya. Saat raga kita sudah dialokasikan pada suatu tempat / momen, maka jiwa kita harus benar-benar berada pada tempat / momen tersebut sehingga apapun yang terjadi kita bisa menerima dengan ikhlas dan bijak. Dan saat raga dan jiwa sudah seiring sejalan, maka sebaik-baiknya adalah lillahi ta’ala.

Penyebab Stress … (1)

Posted in Kehidupan, Nasehat, Sesi, Terapi, Unduh dengan kaitan (tags) , , , on 11 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Coba dipilih di antara dua pilihan ini :

  • Mengangkat kursi dan seketika diturunkan
  • Mengangat sebuah botol kosong selama 2 jam

Kira-kira kita memilih yang mana? Saya kira kita akan memilih yang pertama, karena meskipun lebih berat namun efeknya hanya sebentar. Sementara jika kita memilih yang kedua, tangan kita mungkin akan pegal dan kesemutan walau bebannya ringan.

Nah, dari pelajaran di atas stress ternyata bukan karena seberapa besar masalah yang kita hadapi, tapi lebih dikarenakan seberapa lama kita menyimpan masalah itu. Masalah besar namun segera mengambil tindakan penyelesaiannya jauh lebih bermanfaat bagi kita dibanding masalah kecil yang kita biarkan berlarut-larut.

Semoga kita semakin bijak menyikapi setiap permasalahan hidup kita, tentu sebaik-baiknya dengan lillahi ta’ala.

Gempa Yang Menggemparkan

Posted in Nasehat dengan kaitan (tags) on 2 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sebagaimana QS 2 : 156 sesungguhnya kita semua milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kita kembali.

Berita salah satu koran hari ini menyebutkan bahwa Gempa Sumatra beberapa hari yang lalu menewaskan lebih dari 1000 orang. Gempa dengan skala 7.6SR dan walau hanya dengan durasi kurang dari 1 menit begitu menggemparkan.

Begitu banyak penderitaan dan ujian berat bagi saudara-saudara kita disana. Mari kita doakan semoga saudara-saudara kita tersebut diberikan kesabaran, ketabahan dan kekuatan untuk bisa bangkit kembali paska gempa tersebut. Smoga ujian Allah berupa gempa sudah hanya itu saja.

Terlepas dari segala penderitaan saudara-saudara kita, mari kita simak QS 64 : 11 yang menerangkan bahwa tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Oleh karenanya, yang bisa kita lakukan saat ini dan ke depan adalah mengarahkan segenap upaya dalam rangka menggapai rahmat dan ridho Allah. Kita tingkatkan spiritualitas kita demi kedekatan kita pada-Nya. Kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, dalam rangka mengharap cinta-Nya. aamin, insya Allah.

Mengapa Orang Lain Begitu Kepadaku?

Posted in Kehidupan, Sesi, Terapi dengan kaitan (tags) , , on 1 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Kenapa ya kok dia begitu padaku? Seringkali pertanyaan ini muncul pada kita. Dan tentulah jawaban yang kita persiapkan hanya sebatas hubungan antara dia dan kita. Padahal, kehidupan di dunia ini saling terkait, bahkan ekstremnya sebagian berpendapat ada hukum karma. Di kala terjadi hubungan sebab-akibat yang tidak kita harapkan, sebenarnya apa yang kita dapatkan tidak jauh-jauh dari apa yang kita lakukan.

Mengapa ya dia tidak mau mendengar nasehat kita? Bisa jadi karena kitapun bukan sebagai pendengar yang baik.

Mengapa ya dia kok tidak taat pada kita? Bisa jadi kitapun bukan orang yang taat.

Mengapa ya dia kok tega membohongi kita? Bisa jadi kita juga masih ada bohong yang tersimpan.

Mengapa ya dia kok tidak peduli? Bisa jadi kita juga bukan orang yang peduli.

… dan seterusnya, yang intinya saat orang lain berbuat sesuatu yang kita tidak mengharapkannya, coba mari cek diri kita, apakah kita sudah melakukan hal yang sama. Jika belum mari perbaiki diri kita, jika sudah mari kita tingkatkan lagi.

Dunia ini bukan tentang mereka, tapi dunia ini adalah tentang kita dan bagaimana kiprah kita bagi sesama. Semoga lillahi ta’ala.

Mengapa Perlu Rileks?

Posted in Kehidupan, Sesi, Terapi dengan kaitan (tags) on 1 Oktober 2009 by wahyusetiyoutomo

Pertanyaannya, seperti apa sih rileks? Bisa rileks secara fisik juga bisa rileks secara mental. Rileks artinya mengendurkan atau melonggarkan. Sesuatu yang tadinya mungkin tegang dan kencang maka perlu dibuat lebih rileks. Apa jadinya jika otot selalu tegang/kecang? Apa jadinya jika dahi kita selalu berkerut saat kita berpikir keras? Apa jadinya wajah kita jika selalu tegang? Apa jadinya jika pikiran kita selalu tegang? Apa jadinya jika jantung kita selalu berdegup kencang?

Jika fisik kita yang tegang maka tentulah kita mudah merasakan keluhan fisik semisal sakit otot, sakit saraf ataupun percepatan penuaan. Jika mental kita yang selalu tegang maka tentu hati dan jiwa kita tidak tenang.

Dengan fisik yang rileks maka metabolisme tubuh berfungsi semakin baik. Dan dengan mental yang rileks maka kita lebih siap mencari alternatif dari setiap masalah yang kita hadapi.

Rileks juga berarti tenang dan bersikap sewajarnya. Dan dengan rileks ini, bisa mengantarkan kita menjadi lebih bijaksana.

Sudahkah Kita Peduli ? … Alam/Lingkungan Sekitar

Posted in Kebaikan, Kehidupan dengan kaitan (tags) , on 30 September 2009 by wahyusetiyoutomo

Kala kita bahas tentang peduli, maka kita sedang membicarakan diri kita maupun keterkaitannya dengan orang lain maupun dengan alam/lingkungan sekitar kita. Saat ini kita coba seberapa peduli kita terhadap lingkungan kita dan apakah kita sudah melakukan sesuatu sebagai kepedulian kita :

  • Saat ada kran air yang terus mengalir padahal sudah tidak diperlukan, apakah kita tidak mematikannya?
  • Saat ada lampu listrik yang menyala padahal ruangan sudah cukup terang dengan cahaya matahari atau ruangan itu tidak terpakai, apakah kita membiarkannya?
  • Saat ada sampah/kotoran yang bisa dipungut dan dibuang di tempat sampah, apakah kita tidak mengambilnya?
  • Saat kita di mobil dan ada sampah/kotoran yang harus dibuang, apakah kita buang sembarangan di jalan raya?
  • Saat kita melihat barang-barang berserakan, apakah kita tidak tergerak merapikannya?
  • Saat kita melihat alam/lingkungan sekitar kita perlu sentuhan tangan kita, tidakkah kita tergerak melakukan kebaikan?

Padahal jika kita tahu, semua yang kita lakukan pun itu untuk orang lain ataupun bagi alam/lingkungan sekitar kita, hakekatnya semua itu kembali kepada kita.

Saat kita bersahabat dengan alam/lingkungan sekitar, insya Allah alam/lingkungan sekitar juga akan bersahabat dengan kita.

Sebaik-baik kepedulian kita, saat kita lakukannya dengan lillahi ta’ala.

Talk Less Do More

Posted in Kehidupan, Nasehat dengan kaitan (tags) , on 30 September 2009 by wahyusetiyoutomo

Jadi ingat tagline-nya satu produk rokok. Tapi kita disini tidak sedang membahas tentang rokok. Yang kita bahas adalah tentang diri kita.

Bagaimana respon kita jika melihat atau mendengar atau merasakan sesuatu terlebih itu hal yang baru terlebih itu hal yang seru? Ataupun jika kita melihat atau mendengar atau merasakan sesuatu yang menurut kita kurang/tidak sesuai dengan nilai/value kita.

Apa yang kita lakukan? Bukankah lebih banyak kita mengomentarinya dengan segala macam pendapat dan argumen kita? Bukankah lebih banyak kita akhirnya merasa bahwa semua itu banyak tidak sesuainya seakan-akan diri kita yang paling benar?

Tapi coba lihat diri kita, adakah sesuatu yang telah kita lakukan?

Nah, itulah diri kita. Begitu hebatnya diri kita saat menjadi “penonton” seakan-akan kita ini “pemain” yang hebat. Apakah saat kita benar-benar menjadi pemain kita juga akan sehebat itu? Belum tentu.

Oleh karenanya, daripada banyak waktu kita korbankan untuk hanya sebagai “penonton”, akan lebih baik jika kita manfaatkan waktu kita sebaik mungkin sebagai “pemain”, apapun dan seberapapun permainannya.

TLDM ini juga terkait kata bijak Jawa yang mengatakan : ” Rame ing gawe, sepi ing pamrih “.

Berbuat sesuatu meskipun sedikit jauh lebih baik dari banyak bicara. Semoga kita semakin arif memanfaatkan waktu yang dititipkan kepada kita.

Sajadah dan Sholat Jamaah

Posted in Kehidupan, Nasehat dengan kaitan (tags) , on 30 September 2009 by wahyusetiyoutomo

Bagi beberapa masjid yang ada petugas kebersihannya, maka kebersihan lantai masjid tersebut insya Allah tidak diragukan. Di kala lantai masjid benar-benar bersih, maka sebenarnya tidak lagi kita perlukan sajadah (alas kain untuk tempat sholat).

Nah bicara sajadah ini jika dikaitkan dengan pelaksanaan sholat jamaah maka ada yang perlu kita perhatikan. Bukankah saat sholat jamaah kita disyaratkan untuk merapatkan dan meluruskan shaf sebagai kesempurnaan sholat jamaah? Seringkali keberadaan sajadah ini, terlebih yang dibawa oleh masing-masing jamaah justru menjadi hijab/pembatas bagi rapatnya shaf. Apalagi jika ukuran sajadah melebihi ukuran orangnya (lebarnya).

Tentang sajadah ini juga, terkadang maksudnya baik tapi caranya kurang baik saat berniat berbagi sajadah dengan orang lain. Padahal jika dipakai sendiri maka ada bagian sajadah yang diinjak kaki. Saat bermaksud berbagi dengan jemaah lain, bagian sajadah yang dibagi ke orang lain justru yang menjadi bagian kaki. Begitukah kita? Semoga tidak.

Jadi, mari kita upayakan sajadah kita (jika membawanya) tidak menjadi hijab/pembatas untuk rapatnya shaf demi sempurnanya sholat jamaah.Begitu pula jika ingin berbagi sajadah dengan orang lain, selalu kita muliakan orang lain dengan menempatkan bagian kaki untuk kita sendiri.

Peduli dan memuliakan orang lain insya Allah termasuk kemuliaan, terlebih itu lillahi ta’ala.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.